Kisah Rizki Pratama Sukses dengan Cekeran Midun

Di beberapa kota besar Ceker Ayam sangat jarang dijadikan sebuah hidangan utama. Biasanya, ceker ayam hanya dipakai sebagai bahan pelengkap untuk soto ataupun sop. padahal olahan ceker ayam memiliki penggemar tersendiri. Hal ini pun membuka kesempatan bagi siapapun, untuk melakoni usaha kuliner yang mengedepankan ceker ayam sebagai hidangan utama.

Kisah Rizki Pratama Sukses dengan Cekeran Midun

Dan salah satunya adalah Rizki Pratama Putra pemiliki usaha bernama Cekeran Midun, Bandung-Jawa Barat yang mampu meraup omset hingga Rp 300 juta/bulan.

Diungkapkan pria yang akrab disapa Rizki ini, usaha Cekeran Madiun terbentuk karena dirinya gemar menyantap olahan ceker. Selain itu, ia juga melihat peluang dimana produsen yang menjadikan olahan ceker sebagai hidangan utama khususnya wilayah Bandung, masih sangat jarang. “Karena ceker identik dengan kuah dan di Bandung sedang trend masakan serba pedas, jadi saya ingin hadirkan olahan ceker berkuah dengan level pedas,” tambahnya.

Demi merealisasikan niatnya, Rizki pun mulai melakukan uji resep. Dan hanya dalam sebulan, pria yang hobi masak ini berhasil mendapatkan formula yang pas. Ia pun sukses menghasilkan varian awal berupa Cekeran Lapindo, Cekeran Setan Merapi, Cekeran Laut Mati dan Cekeran Kuah Bakso dengan 4 level pedas. Semua menu tersebut merupakan olahan ceker kuah bercita rasa nusantara yang memiliki sensasi pedas.

Untuk menjalankan usaha Cekeran Midun, Rizki menggelontorkan modal sebesar Rp 45 juta. Modal tersebut digunakan sebesar Rp 26 juta untuk menyewa gerai selama setahun yang terletak di kawasan Dipati Ukur-Bandung, Rp 5 juta untuk mendesain gerai, Rp 10 juta untuk membeli peralatan dan perlengkapan, sisanya digunakan untuk membeli bahan baku dan kemasan.

Selain memiliki cita rasa yang unik dan banyak disukai oleh kalangan anak muda, pemilihan lokasi yang tepat menjadi faktor pemicu ramainya gerai Cekeran Midun. “Saya sengaja pilih lokasi di Jl. Singaperbangsa Dipati Ukur, karena saya menyasar kalangan anak muda untuk target pasarnya bisa dilihat, disana ada beberapa kampus seperti UNPAD dan ITB,” jelas Rizki.

Tak hanya menghadirkan desain gerai yang menarik nan unik, untuk menjaring kosumen Rizki juga menghadirkan suasana gerai yang berbeda setiap harinya. Seperti hari Senin ada konsep Midun Kakoet, dimana konsumen akan memperoleh diskon sesuai persyaratan ditentukan. Kemudian pada hari selasa adalah konsep Midun Bilingual, yang mana para pelayan akan melayani konsumen dengan beberapa bahasa pilihan.

Kemudian pada hari Rabu ada Midun Ngadalang yakni pengunjung akan merasakan suasana yang Indonesia banget karena para pelayan didandani layaknya tokoh pewayangan. Lalu pada hari Kamis ada Midun Kliwon, Jumat ada Midun Dugem, Sabtu ada Midun Challenge dan hari Minggu ada Midun Bobogohan.

Berkat kualitas rasa yang mumpuni serta selalu menghadirkan keunikan setiap harinya, membuat usaha Rizki tak pernah sepi pembeli. Kini, dalam sehari Rizki mampu meraup omset hingga Rp 10,5 juta. Dan bila diakumulasikan dalam sebulan, setidaknya Rizki bisa mengantongi omset sebesar Rp 315 juta, dengan keuntungan bersih sekitar Rp 163 juta per bulan.

Oleh karenanya, untuk melayani ramainya pembeli yang datang, Rizki dibantu oleh 24 orang keryawan. 21 karyawan bekerja di gerai dan sisanya di dapur produksi. Setiap karyawan rata-rata mendapat gaji sebesar Rp 1,5 juta. Selain itu, jika penjualan mengalami peningkatan setiap karyawan akan mendapat bonus. Sedangkan untuk libur karyawan di rolling sesuai giliran.

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someonePin on Pinterest