Kisah Yansen Kamto Sukses jadi Entrepreneur Muda

Kisah Yansen Kamto Sukses jadi Entrepreneur Muda

YANSEN Kamto ingin meyakinkan anak muda, menjadi enterpreneur tidak selalu dengan membangun pabrik atau menjadi kontraktor jalan tol. Cukup bermodal laptop, internet dan teman.

Kisah Yansen Kamto Sukses jadi Entrepreneur Muda

Laki-laki berpembawaan humoris ini memberikan gambaran, bagaimana fenomena kesukesan aplikasi ojek online Go-Jek dan e-commerce asal Indonesia seperti Traveloka dan Tokopedia mendorong anak-anak muda untuk memulai bikin startup, sebutan untuk perusahaan rintisan bidang digital.

“Selanjutnya adalah kalau sudah tertarik muncul pertanyaan, bagaimana caranya agar seperti mereka-mereka? Mulainya dari mana, perlu modal atau tidak, bagaimana caranya mencari partner ? Begitu banyak pertanyaan dari anak-anak muda,” kata pria kelahiran Pontianak 3 Agustus 1981.

Dari pemikiran itulah Gerakan 1000 Startup Digital yang ingin menciptakan 1.000 perusahaan rintisan digital hingga 2020 digagasnya. Gerakan yang diluncurkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika pada 17 Juni 2016 ini melalui tahapan sistematis di 10 kota di Indonesia yang sudah memiliki infrastruktur serta pondasi digital yang kuat.

“1000 perusahaan digital hingga tahun 2020 seharusnya bukan sesuatu yang sulit. Hitung-hitungannya adalah dalam 5 tahun setiap kota menghasilkan 200 perusahaan atau setahun 20 startup,” ujar Yansen Kamto. Ia percaya kota semacam Yogyakarta tidak mungkin hanya 20 startup setiap tahun. Selain Yogyakarta kota lain yaitu Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Malang, Pontianak, Bali dan Makassar.

Dalam berbagai kesempatan Yansen selalu mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Baginya membicarakan potensi sudah cukup. Sudah saatnya melakukan sesuatu dengan potensi tersebut.

“Kalau hanya ngomong potensi saja, Indonesia hanya akan menjadi pasar. Indonesia harus menjadi pemain. Mimpi besarnya adalah mendorong lebih banyak anak muda untuk menciptakan solusi dengan menggunakan teknologi digital. Tidak ada waktu yang tepat kecuali sekarang,” tegas CEO Kibar ini tegas.

Yansen mengatakan di Indonesia ada sekitar 93,4 juta pengguna internet dan 70-an juta pengguna perangkat telepon pintar. Kondisi tersebut sangat mendukung pengembangan e-commerce dan bisnis aplikasi teknologi digital di Indonesia. Saat ini teknologi informasi sudah melekat di anak muda Indonesia.

“Sekarang penetrasi internat semakin cepat, koneksi semakin murah, kalau tidak sekarang sayang sekali. Ini kesempatan mengubah bangsa ini dari konsumen menjadi produsen,” ujar Yansen. Ditambahkannya, sayang kalau potensi tersebut hanya dimanfaatkan untuk sekadar selfi-selfian. Ada hal besar yang bisa dilakukan, membangun Indonesia.

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someonePin on Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *